Semarang, fatayatnujateng.com – “Anak-anak muda perlu disemangati untuk ikut berdakwah, terutama berdakwah era masa kini melalui media,” demikian ungkapan H. Shoib Nur, sekretaris tanfidziyah PWNU Jateng saat membuka acara “Kopdar Jumat Sore”, sebuah diskusi yang diinisiasi pengelola www.nujateng.com, Jumat (3/3/2017).

Pernyataan tersebut didasari keprihatinan atas wabah konservatifisme keagamaan yang menjadi pemicu gerakan radikal di Indonesia.

Hadir dalam diskusi tersebut penulis buku Gagal Faham Khilafah, Makmun Rosyid. Menurutnya banyak perguruan tinggi yang menjadi arena penyebaran paham radikal, baik perguruan tinggi berbasis Islam maupun perguruan tinggi umum. Hal ini harus direspon secara serius dengan inisiatif-inisiatif progresif kaum muda NU.

“Universitas Indonesia sempat mau dijadikan kantor wahabi, sehingga kami bergerak cepat untuk meresponnya. Gema pembebasan, salah satu situs online mereka juga digelar di UI”, terang Rasyid sapaan akrab lelaki kelahiran Medan, 1992 ini. Secara umum, kata Rasyid, memang kader-kader gerakan radikal cukup militan, seperti HTI.

“Kader-kader aktivis saya katakan militan, dan alhamdulillah sekarang kami bisa mengantisipasi hal itu dengan lahirnya website kami, www.harakatuna.com sebagai media dakwah dengan konten nilai-nilai ke-NU-an”, jelasnya.

Selain Rasyid, hadir pula Abdul Wahab, pengelola website www.santrionline.net. Ia menjelaskan bahwa media harus dimanfaatkan untuk berkontribusi kepada bangsa.

“Saya selalu bilang kepada teman-teman saya yang kuliah, saya yang tidak kuliah saja setidaknya sedikit berkontribusi berjuang untuk bangsa. Kalau teman-teman tidak berbuat sedikitpun untuk bangsa, kebangetan”. Terang pemuda yang tidak tamat SMA ini.

Di tengah pesatnya perkembangan media online sebagai sumber informasi, Wahab, di penghujung diskusinya menyampaikan bahwa media sosial dapat dijadikan sebagai alternatif tawassul dalam berjuang, contohnya facebook.

“Facebook lebih cepat untuk bertawassul. Saya sewaktu di Makasar ketinggalan pesawat, kebetulan hanya tersisa lima ribu rupiah saja. Akhirnya, saya update status tentang kondisi saya saat itu dan alhamdulillah selang beberapa menit saudara-saudara NU berdatangan menemui saya”, jelasnya senang.

Tak mau ketinggalan perwakilan PW Fatayat NU Jateng, Hj. Tazkiyyatul Muthmainnah, yang juga hadir dalam diskusi tersebut ikut urun rembug.

“Fatayat NU Jateng juga sedang serius merintis dakwah di medsos melalui website. Bagi kai ini penting untuk mendorong dan memberikan ruang yang luas untuk perempuan-perempuan NU untuk beraktualisasi dan berkontribusi dalam melawan penyebaran paham radikalisme di media,” tuturnya menjelaskan.

(Rofi-Iin)