Solo, fatayatnujateng.com (sumber: NU Online)

Mestinya hampir setiap tahun saya memiliki kesempatan bersua dengan tokoh kelahiran Boyolali, 9 Agustus 1937 itu. Sebab hampir saban tahun, pemilik nama lengkap Nyai Hj. Basyiroh Zawawi tersebut, mengunjungi Kota Solo, terutama saat diadakannya peringatan haul kakeknya, salah satu tokoh perintis NU Solo, KH Ahmad Siradj.
Namun, kesempatan bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama kedua tersebut, justru terjadi tiga tahun silam, saat penulis sowan ke kediamannya di daerah Jenu, Tuban. Sebuah wilayah yang terletak di pesisir utara, yang konon memiliki akronim nama “jelas NU”.
Kala itu, saya tiba di kediamannya, dalam suasana Lebaran. Saya memperkenalkan diri secara singkat. Setelah mengetahui maksud kedatangan saya, mulailah ia bercerita mengenai perjalanan singkat hidupnya, serta kisah suka dukanya kala berjuang di IPPNU.
Meskipun raut mukanya menunjukkan usianya yang sudah uzur, tapi cara bicaranya yang ala aktivis masih melekat kuat: tegas dan bersemangat! Basyiroh merupakan salah satu dari kader IPPNU generasi awal. Bersama dengan Umroh Mahfudzoh dan kawan-kawan lainnya di Pesantren Masyhudiyah Keprabon Solo, ia menjadi saksi terbentuknya organisasi yang dulu bernama IPNU Putri itu.
Pada zaman tersebut, menurut dia, perjuangan bersama IPPNU sangatlah berat. Namun, minimnya fasilitas bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk mengadakan pertemuan. “Kami sering pergi dengan jalan kaki dari Keprabon ke Kantor PCNU Solo (di Jalan Honggowongso,-red),” kenang Nyai Basyiroh.
Keluarga Pejuang NU
Pada buku “Sejarah Perjalanan IPPNU 1955-2000” (diteerbitkan PP IPPNU, 2000), Nyai Basyiroh dikenal dengan nama Basyiroh Shoimuri. Nama yang melekat di belakangnya, merupakan nama ayahnya, yang tak lain KH Shoimuri. Setelah menikah dengan KH Zawawi, namanya lebih dikenal dengan sebutan Basyirah Zawawi, sampai sekarang.
KH Shoimuri ini merupakan seorang ulama kharismatik dari Boyolali, putera dari KH Ahmad Siradj Solo. Semasa hidupnya, Kiai Shoimuri pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriah PCNU Boyolali.
Putera-puteri Kiai Shomuri pun banyak yang mengikuti jejak ayah mereka, mengabdi di NU. Anak-anaknya selain Basyiroh, yakni: Muhammad, Tamam (pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Boyolali), Karimah, Mujab, Sabiq, Muhsinah (Istri KH Cholil Bisri Rembang), Makin (Pesantren Raudhatut Thalibin Putri Leteh Rembang) dan Mubin (pernah menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Solo).
Kiai Shoimuri pula yang mendorong Basyirah yang masih remaja, untuk mengenyam pendidikan sekolah. Sejak usia 5 tahun, Basyiroh dititipkan kepada kakeknya, Kiai Siradj, yang juga pengasuh Pesantren NU 001.
Di Solo, ia disekolahkan di RA NDM selama 2 tahun dan MI NDM selama 6 tahun. Lalu, pada tahun 1950, Basyiroh melanjutkan pendidikannya di Muallimat pertama (3 tahun) dan Muallimat atas (1 tahun), yang kesemuanya ditempuh di Nadhlatul Muslimat (NDM) Solo.
Peletak Dasar Organisasi
NDM sendiri merupakan sekolah yang didirikan para tokoh Muslimat NU Solo, salah satunya Machmudah Mawardi pada tahun 1930-an. Catatan pada artikel ini, sekaligus menjadi ralat pada buku “Sejarah Perjalanan IPPNU 1955-2000” (PP IPPNU, 2000) di mana seharusnya NDM, akan tetapi pada buku tersebut ditulis MDM.
Nama NDM patut dicatat pada sejarah IPPNU, sebab dari sekolah tersebut sejumlah tokoh IPPNU generasi awal muncul. “NDM ini dulu dijadikan rujukan pelajar dari berbagai daerah,” tutur Nyai Basyiroh.
Semasa berjuang sebagai ketua PP IPPNU, Basyiroh dikenal sebagai sosok peletak dasar organisasi. Mewarisi 30 cabang bentukan Umroh, Basyiroh berhasil melipatduakan hingga 60 cabang pada akhir kepengurusannya.
Kepengurusan periode pertama yang diemban hingga tahun 1958, digunakan Basyiroh untuk memperluas cabang-cabang IPPNU. Dalam setiap forum nasional di mana keluarga besar NU hadir, Basyiroh selalu menyempatkan diri memperkenalkan dan meminta bantuan pendirian IPPNU di tempat asal cabang-cabang yang bersangkutan.
Setelah usai pengabdiannya di IPPNU, ia sempat aktif di Fatayat, hingga akhirnya ia melanjutkan pengabdiannya di Muslimat NU. Tercatat dirinya pernah menjadi Ketua Muslimat PCNU Tuban. Selain itu, ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Tuban.
Mengabdi di Usia Senja
Kini, di usianya yang hampir genap 80 tahun, Nyai Basyiroh mendedikasikan hidupnya untuk menemani para murid dan santri di Madrasah Al-Hidayah, yang didirikannya bersama mendiang suami. Di lain waktu, ia juga masih mengisi pengajian ibu-ibu di wilayah Tuban. Nampaknya dunia dakwah dan sosial terus menjadi bagian penting dari hidupnya.
Saat penulis sowan ke kediamanya, tercatat ia masih memiliki jadwal mengisi pengajian yang cukup padat. Setiap Kamis, ia mengelola Majelis Taklim Al-Istiqomah Jenu. Jumat Pahing ia mengisi pengajian di Masjid Agung Tuban. Kemudian Jumat Pahing di salah satu mushola Desa Glodog, Palang, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang ia ikuti.
“Sebab moto yang saya pegang: menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa,” ujarnya.
Moto tersebut menjadi pegangan hidupnya, sehingga meski usianya semakin tua, namun tak menyurutkan langkahnya untuk tetap ikut berjuang dan memberikan manfaat bagi sesama.
Obrolan kami, pada hari Jumat tersebut dipungkasi santapan siang bersana dengan menu masakan ikan laut khas Jenu! Jelas NU! (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)