Brebes, fatayatnujateng.com (sumber: NU Online)

Pengajian rutin keliling MWC NU Ketanggungan Brebes, Jawa Tengah berhasil menghimpun dana umat secara spontan sebanyak Rp. 30.974.200. Dana tersebut, dipergunakan untuk kegiatan NU dan badan otonom serta operasional MWC NU Ketanggungan.
demikian disamapaikan Sekjen MWC NU Ketanggungan KH Fadholi HM disela Tabligh Akbar di halaman Masjid Baiturrohim Desa Sindangjaya, Ketanggungan, Ahad (5/2).
Fadholi menjelaskan, pengajian rutin keliling setiap Ahad Legi sudah berlangsung 2 tahun dan di ranting Sindangjaya ini merupakan putaran ke 20. “Alhamdulillah yang mencapai puluhan ribu Nahdliyin sehingga bisa mengumpulkan jariyah sampai Rp 30 juta lebih,” tuturnya.
Dia bangga dengan semangat Nahdliyin yang terus menerus menghadiri pengajian tanpa di suruh ataupun dibiayai. Tampak membludak kehadiran Mereka, terbukti masjid yang besar tidak cukup menampung jamaah hingga kehalaman dan jalan-jalan seputar masjid.
Bahkan mobil pengunjung terparkir hingga Dusun Bantarsari-Cikeusal Kidul yang jaraknya sekitar 3 kilometer.
Pengajian diawali pembacaan Manaqib Kubro Syech Abdul Qodir Jaelani yang dipimpin Pengasuh Ponpes Az-Ziyadah Ketanggungan Kyai Abdullah faqieh.
Ketua PC NU Brebes KH Athoilah Syatori dalam sambutannya mengaku bangga melihat ghirah warga NU di Kecamatan Ketanggungan bisa kompak. Athoillah juga berharap agar kegiatan ini terus berlanjut jangan sampai berhenti dijalan. Karena pada hakekatnya, kegiatan NU berada di ranting-ranting hingga anak ranting. “Kalau masih kokoh seperti ini, Insya Allah NU tak tertandingi,” ungkapnya.
Pengasuh Ponpes Miftahussalam Banyumas Al Habib Muhammad Bin Jafar al Habsy dalam tausiyahnya beliau menghimbau agar para pengurus NU jangan pernah lelah ngopeni NU. Karena NU adalah benteng Islam Ahlusunah Wal Jama’ah. Di Indonesia, NU juga merupakan Pilar utama penopang NKRI. “Kalau NU hancur, Aswaja hancur maka NKRI pun akan hancur,” kata Habib Muhammad dengan semangat berapi-api.
Untuk itu, lanjutnya, agar NU tidak rapuh dia menghimbau pentingnya penguatan pengkaderan di NU. Pengkaderan di IPNU-IPPNU,  Ansor, Banser, Fatayat NU harus terus digalakan demi berlangsungnya estafet kepemimpinan NU.
Beliau juga merasa terharu dan bangga melihat Banser di Ketanggungan begitu banyak dan kompak. “Saya dulu Pengurus Ansor, pernah jadi pengurus PAC, PC Ansor Banser dan sekarang di MWC NU,” ungkap Habib menerangkan.
Dia suka di NU karena tidak gila jabatan. Menurutnya, hanya di NU orang yang mau menerima turun Jabatan bahkan kadang tidak mau duduk dikepengurusan. Yang semua duduk di Pimpinan  Cabang bisa turun jadi pengurus di tingkat kecamatan, di PAC atau MWC.
Kalau sudah menduduki jabatan Camat atau Kepala Dinas, saya yakin tidak mau turun jabatan karena berimplikasi pada turunnya penghasilan. “Kalau di NU gak ada gajinya, maka enjoy aja,” kata Habib disambut tertawa hadirin.
Mau jadi jabatan apa pun di NU, kata Habib tidak masalah. Yang terpenting adalah bisa ngurusi lan Ngopeni NU apa tidak? (Wasdiun/Fathoni)