Semarang, fatayatnujateng.com – Keluarga, terutama orang tua memiliki peran penting dalam pengawasan perkembangan anak, terutama di era digital ini, dimana internet sangat mudah diakses oleh setiap orang dengan gawai atau gadget mereka. Para orang tua harus mengetahui bahwa bukan gawai lah yang harus diproteksi, melainkan menyiapkan anak-anak kita dalam menyikapi era digital.

Kenyataan bahwa kemudahan mengakses informasi melalui internet memiki sisi positif dan negatif seharusnya menjadi kesadaran bersama, dengan begitu konsumen media dapat bersikap kritis. Anak bermain gadget karena mencontoh orang tuanya, oleh karenanya orang tua memikiki peran penting untuk memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Demikian disampaikan oleh Dr. Hastaning sakti, M.Kes,Psi dalam Seminar Nasional bertema “Digital Parenting: Peran Orang Tua dalam Menghadapi Era Digital” yang digelar PW Fatayat NU Jateng yang merupakan bagian dari rangkaian Pelantikan dan Rakerwil PW Fatayat NU Jateng pada 26 Maret 2017 di ballroom Hotel Semesta Semarang.

“Pertama-tama kita harus menyejajarkan diri terlebih dahulu dengan anak untuk memasuki dunia mereka. Kita harus membangun rasa. Jadikan mereka subjek, bukan objek. Ketika rasio sudah mulai jalan, barulah kita bisa memasukkan nilai-nilai moral dalam pikiran mereka,” tutur perempuan yang juga Dekan Fakultas Psikologi UNDIP ini.

Hadir pula sebagai narasumber dalam seminar tersebut Hasan Habibi dari Pustekom Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam pemaparannya, lelaki yang juga media enthusiast ini mengungkapkan bagaimana dahsyatnya pengaruh internet dalam kehidupan masyarakat, baik sisi negatif maupun positif. Internet dan media sosial menghubungkan banyak orang di seluruh dunia, namun dapat juga disalahgunakan seperti perundungan (bullying). Dalam konteks anak, rasa keingintahuan yang besar dan kepolosan anak terhadap internet disalahgunakan untuk mengakses hal-hal yang tidak seharusnya seperti pornografi. Data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan ribuan anak indonesia jadi korban pornografi.

Dalam konteks hubungan sosial, kehadiran internet dalam bentuk media sosial juga memiliki efek beragam. Dalam relasi kemasyarakatan, banyak pola-pola lama berubah menjadi pola baru. Dulu orang bertemu secara langsung (kopi darat), sekarang bisa digantikan via skype, whatsaap, line, dan lain-lain. Dulu orang belanja secara langsung di pasar atau di toko, sekarang bisa melalui online.

“Internet memiliki kekuatan dan kelemahan, ia bisa mendekatkan yang jauh tapi juga menjauhkan yang dekat” tutur lelaki yang juga pernah menjabat ketua PW IPNU Jawa Tengah periode 2004-2006 ini.

Dari banyaknya efek negatif dari internet kepada anak penting bagi orang tua untuk selalu mendampingi dan memberikan pengertian.

“Kita harus tau kapan handphone harus mati, dengan begitu kita bisa berkontribusi terhadap perubahan ke arah yang lebih baik. Masing-masing individu bisa membuat perubahan jika mau,” pungkasnya.

(Rofi).