SEMARANG.  PW Fatayat NU jateng  menggelar Training Of Trainer pada Jumat-Sabtu (16,17 Februari 2018),  di Hotel Siliwangi Semarang. Acara yang diikuti oleh pengurus wilayah  ini diharapkan mampu mencetak trainer-trainer handal yang mampu menjadi agen perubahan dalam menanamkan nilai-nilai ke fatayatan, serta menumbuhkan budaya organisasi yang lebih baik.

Dalam pembukaan acara , Hj Tazkiyyatul Muthmainnah  mengatakan bahwa fatayat adalah organisasi kader. Maka pengkaderan adalah sebuah keniscayaan yang  wajib dilakukan.

“Kader kita di lapangan sangat banyak, kita mempunyai 37 cabang. Sementara jumlah trainer sangat terbatas. Semoga TOT ini mampu melahirkan trainer-trainer yang professional” ujar Iin.

Hadir sebagai nara sumber dalam TOT adalah Ali Anshori , tim trainer DPP PKB Jakarta.

Ali mengatakan “Diperlukan orang-orang  yang capable dalam membangun integritas organisasi guna memicu kesadaran dan militansi terhadap organisasi. Kader Fatayat harus punya obsesi, kader yang aktif yang dapat turut mengisi pembangunan. Karena peran perempuan sangat dibutuhkan.”

Agar Fatayat NU menjadi kuat dan solid serta diperhitungkan, menurut  Ali harus ada kaderisasi yang sistematis didukung oleh tim, sistem dan anggaran.

Selain itu Kader dan struktur Fatayat harus bisa beradaptasi dengan tantangan generasi milenial.

Dimulai dengan menguasai Informasi Teknologi (IT), berjejaring, hingga menguasai opini publik.

“Kader harus kreatif , inovatif, kerjakan hal-hal kecil, tapi dampaknya besar,” tuntasnya.

Jadi trainer jangan normative, sampaikan sesuatu yang dengan cara kreatif , meski hal hal sepele tapi dampaknya besar.

Sementara itu Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah Tazkiyyatul Muthmainnah dalam sambutannya mengatakan “Kita sebagai organisasi perempuan dengan kader yang sangat beragam, sangat potensial untuk dimanfaatkan, di tunggangi untuk kepentingan politik praktis. Jangan sampai Fatayat mengalami hal tersebut,” kata Iin, panggilan akrab Tazkiyyatul Muthmainnah.